Fenomena Friendster

 Friendster

Friendster emang bukan barang baru. Tapi baru-baru ini warga Goa IPA 3 lagi dilanda musim frendster yg diperkirakan akan terus berlanjut sampai koneksi internet sekolah diputus. 3 Biji laptop inventaris suku IPA 3 nyaris tak pernah lepas dari tangan-tangan mereka. Tapi berhubung tiap kelas cuman dapat satu kabel koneksi LAN, jadinya mereka berebut terus minta giliran membuka FS masing-masing. Cuman mau nge-add lah mau comment lah, dan berbagai macam alasan mereka gunakan untuk mendapat jatah browsing gratis. Heran gw, apa yg membuat mereka begitu tergila-gila dengan FS? Ada yg begitu royalnya dengan FS sampai-sampai dia udah punya 3 account yg udah pada penuh. Sebaliknya salah seorang temen gw sudah berkoar-koar ingin menghancurkan situs friendster. Yang tentu saja disambut tatapan sinis dan tidak suka dari warga lainnya.

Jadi siapa yg salah? Mereka (frendstaholic) kah? Ataukah situsnya friendster kah? Tak ada yg bisa disalahkan memang. Mereka saling menguntungkan, simbiosis mutualisme. Friendster menyediakan layanan social-networking populer yg tentunya menyedot para pengiklan untuk beriklan di halamannya. Di lain sisi, user mendapat kesempatan untuk bersosialisasi dengan makhluk-makhluk frendstaholic lainnya di seluruh penjuru dunia. Juga sebagai ajang narsisme yg berujung pada narsisme berlebih terhadap lekuk tubuh moleknya. Naudzubillah! Saya sendiri sudah memiliki account di frendster sejak 3 tahun yg lalu. Tapi tidak se’ekstrim mereka kok. Friendlist saya baru 200-an, jumlah yg sedikit untuk orang yg sudah tiga tahun memiliki FS dan selalu OL dan login hampir tiap hari. Itupun hanya orang-orang yg kukenal sajalah yg kuterima sebagai friend.

(Bagian sini hasil kopipes dari blog Chaos-Region)

Siapakah Generasi Friendster itu ?

Tak lain dan tak bukan adalah para pemakai situs pencari teman itu sendiri. Namun tidaklah semua pengguna Friendster adalah Generasi yang harus dienyahkan. Bahkan beberapa pengguna adalah kandidat Revolusioner Negeri yang ternyata tidaklah menganggap Friendster sebagai suatu prioritas penting. Tentunya teramat tidak bijak apabila kita menggeneralisir terlalu cepat. Mengenyahkan berbagai aspek dalam situs tersebut tanpa melihat sisi lebihnya, apalagi hanya sekedar “Say No !” terhadapnya. Terlebih dahulu, kita harus mengetahui apa yang tidak beres dari pengguna situs tersebut

Paham Friendster-isme

Fanatisme yang naik akan perihal ini tentunya akan berbuah lagi. Ya, kemungkinan besar Friendster telah dijadikan tolak ukur, atau malah standar baru bagi orang yang memiliki eksistensi dan ingin dicap sebagai “funky”, “gaul”, ataupun “up-to-date“. Tak jarang pula, dalam dunia komunikasi sekejap (Baca: Chatting), alamat URL daripada profil mereka seringkali ditanyakan oleh kedua belah pihak. Namun, seakan – akan hal tersebut menjadi sebuah kewajiban. Ketika orang yang jujur mengatakan dia tidak memiliki satu, maka dia pun acapkali dicap sebagai ‘udik nan katro’. Tidakkah kalian merasa ada yang aneh ?

Mengapa tingginya ‘derajat’ seseorang (Dalam hal ini digeneralisir sebagai remaja) malah dilihat dari banyaknya Comment ataupun Testimonial yang mereka miliki ? Apakah orang yang memiliki berpuluh – puluh halaman pada ‘Friend List‘ begitu terhormatnya, dibandingkan dengan orang yang jujur diatas ?

Begitulah sebuah potret kehidupan remaja saat ini. Mungkin Friendster bukanlah pembodohan massal bagi remaja – remaja Indonesia, namun hanyalah penyalahgunaan sumber daya dengan skala besar.

Daripada buang-buang waktu cuman melototi cowok/cewek friendstagenic yg cakepnya di FS doank, lebih baek kamu menyambil kerjaan lain yg lebih berguna. Misalnya aja bikin blog kyk gw. Dijamin kepake sampai seterusnya deh, kagak usah malu tua-tua ngeblog. Malahan semakin tua seharusnya produktivitas tulisan kita semakin bermutu kan? Apa kalian gk malu udah pada tua masih frendsteran? Aduh, aduh… Kalo FS gw sih masih aktif sampai sekarang dan insya Allah gk berubah. Coz, kalo gk dari friendster gw sulit ngepromosiin ini blog sama temen-temen. Lagipula untuk sementara ini friendster masih terasa efektif untuk berhubungan dengan teman-teman lama.

zzzz….
zzzz………

Dah ah gw ngantuk, semoga gak mimpi dikejar-kejar singa pincang deh…

14 Tanggapan

  1. Ketika publik sudah melupakan Friendster, timbul lah fenomena Facebook. Ketika Facebook sudah terlupakan, timbul lagi yang lain.

    Rasanya siklus macam ini akan terus ada. Seperti lingkaran setan — wujud dari sebuah ekspresi sosial. Mungkin.

  2. @Xaliber von Reginhild

    Wezz… baru aja posting udah ada yg komen… Thx4 ur comment

  3. @Xaliber von Reginhild

    Kalo di tempat gw sih facebook belom ada yg tau… Social networking jg ya?

  4. Hehe, pertamax dong ya. :P
    Saya juga ngga pakai Facebook, tapi kayaknya iya. Satu turun, yang lain menggantikan.

  5. [...] itulah sedikit gambaran tentang fenomena FS dan sulitnya mengajak orang lain untuk blogging. Orang-orang yang mempunyai FS kebanyakan tidak [...]

  6. Kebanyakan pengguna Friendster yang saya lihat adalah orang yang kelakuannya stagnan. Komentar, testi, edit profile. :D

  7. Friendster bisa digunakan buat promosi blog loh… tapi sulit jg ngajak orang biar ikutan ngeblog…kurang gaul katanya…

  8. facebook apaan?

    bener, setuju sangat.

    FS tu media efektif buat promosoin blog.

    apalagi blog saia yang baru jadi

  9. friendster adalah sebuah hasil “sistemisasi” kehidupan sosial saat ini.
    Bila memang sesuai dengan kultur individu plus tempat, maka friendster berguna sekali dalam membina jejaring..

    salam kompak,

  10. Ass.wr.wb
    Salam kenal..
    gw setuju dengan pendapat loe tentang FS, kyak nya gw bakalan bikin tulisan mengenai Fenomena FS juga di blog gw..

  11. Fs kan isinya ABG semua…. n yang bilang blogging tuh kurang gaul ya yang ngomong itu yang kurang gaul, n baru kenal dunia IT tuh orang. di negara2 maju justru komunitas dari blogging lebih banyak lho dibanding di neggara berkembang hampir tertinggal seperti negara kita tercinta ini,
    kenapa susah mengajak orang ngeblog… ya itu dia…. masyarakat kita lebih banyak lebih percaya dengan ungkapan “KATANYA” nah semakin banyak informasi “KATANYA” itu yang diikuti,…. yah wajar kalau negara kita dianggap gak maju2, lha wong diajak maju pada susah… apalagi kalau saudah “KATANYA”

  12. *nyekar ke blog lamanya Strife*
    Yeah, Friendster s**k™. :roll:

Tinggalkan Balasan